Minggu, 04 Oktober 2020

LEMBAGA KELUARGA : Pengertian, Ciri, Fungsi dan Contoh

 PENGERTIAN LEMBAGA KELUARGA

Lembaga keluarga adalah sebuah unit sosial yang terkecil dalam sebuah masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya. Dalam suatu keluarga, diatur hubungan antar anggota keluarga yang sehingga setiap anggota keluarga memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Dalam terbentuknya sebuah keluarga berasal dari suatu perkawinan yang sah menurut agama, adat, dan pemerintah.

Proses terbentuknya lembaga keluarga

Kehidupan sosial/masyarakat menginginkan adanya suatu keteraturan, ketentraman dalam berintraksi, berkomunikasi untuk memenuhi jumlah kebutuhan dasar manusia bahkan sampai pengawasannya tanpak adanya lembaga sosial yang mengatur kehidupan masyarakat tidak akan terkendali sesuai kehendak bebasnya.


Ciri ciri suatu keluarga

  1. Merupakan suatu kelompok sosial yang terdiri dari berbagai usia dan jenis kelamin.
  2. Minimal 2 orang dari mereka mempunyai hubungan sebagai suami dan istri yang diakui oleh masyarakat dan mepunyai anggota keluarga melalui suatu pernikahan yang sah.
  3. Mempunyai seperangkat aturan sosial tetentu yang diakui dan dijalankan bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga.
  4. Mempunyai fungsi pokok, diantaranya fungsi reproduksi, ekonomi, sosialisasi dan perlindungan.
  5. Menempati tempat tertentu dalam jangka waktu tertentu

Fungsi Lembaga Keluarga

1.      Fungsi Biologis/Reproduksi

Fungsi biologis dalam suatu keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan membesarkan anak-anak yang lahir dalam sebuah keluarga. Fungsi biologis merupakan suatu kebutuhan dasar manusia untuk dapat hidup berpasangan dan memiliki keturunan.

Menikah

Kemudian 


2.      Fungsi Proteksi

Fungsi proteksi dalam keluarga yaitu sebagai perlindungan terhadap para anggota keluarga, baik dalam perlindungan secara emosional maupun fisik. Karena peran keluarga adalah memberikan rasa aman dan tentram kepada para anggota keluarga supaya hubungan dalam keluarga dapat berlangsung secara harmonis.

3.      Fungsi Ekonomi

Dalam sebuah kehidupan tidak akan lepas dari kegiatan perekonomian untuk mendukung kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah keluarga peran ayah dalam sebuah keluarga adalah sebagai kepala keluarga yang pada umumnya menjadi tulang punggung untuk mencari nafkah utama dalam keluarga. Dengan begitu pengelolaan keuangan efisien dalam keluarga akan menimbulkan kerja sama baik antara ibu dan ayah agar sistem ekonomi dalan keluarga menjadi kokoh.

4.      Fungsi Sosialisasi

Keluarga merupakan sistem yang menyelenggarakan sosialisasi terhadap calon-calon warga masyarakat baru. Seseorang yang dilahirkan di suatu keluarga akan melalui suatu proses penyerapan unsur-unsur budaya yang mengatur masyarakat bersangkutan. Calon warga masyarakat baru dipersiapkan oleh orangtuanya, kemudian oleh orang lain dan lembaga pendidikan sekolah, untuk dapat menjalankan peranan dalam kehidupan bermasyarakat, di bidang ekonomi, agama, atau politik sesuai dengan kebutuhan setiap anggota masyarakat. Keluarga merupakan tempat awal terbinanya sosialisasi bagi seseorang.

5.    Fungsi Afeksi

Fungsi afeksi ini dapat berupa tatapan mata, ucapan-ucapan mesra, sentuhan-sentuhan halus, yang semuanya akan merangsang anak dalam membentuk kepribadiannya. Dengan demikian, fungsi afeksi harus dimulai dari lingkungan keluarga karena orangtua langsung berhubungan terus-menerus dengan anaknya sehingga anak akan menerima komunikasi dari orangtuanya dan merasakan adanya rangsangan rasa kasih sayang yang mereka perlukan.

6.    Fungsi Pengawasan Sosial

Keluarga memiliki fungsi sebagai pengawas dan pengontrol aktivitas sosial bagi para anggotanya. Setiap keterlibatan dari anggota keluarga dalam setiap aktivitas sosial atau bermasyarakat di kendalikan oleh keluarga.

7.      Fungsi Penentu Status

Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa status sosial diperoleh melalui garis keturunan maupun keluarga. Dari asumsi itulah peran keluarga akan menentukan keutuhan dan keharmonisan dalam keluarga.


Peranan lembaga keluarga

Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.

       Pendidikan keluarga berperan:

  1. Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
  2. Menjamin kehidupan emosional anak
  3. Menanamkan dasar pendidikan moral
  4. Memberikan dasar pendidikan sosial.
  5. Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak

Contoh Lembaga Keluarga

  1. Kantor Urusan Agama (KUA)
  2. Pengadilan Agama
  3. Lembaga Perlindungan Anak (LPA)
  4. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
  5. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
  6. Lembaga Konsultasi kesejahteraan keluarga (LK3)
  7. Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)
  8. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
  9. Karang Taruna
  10. Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarga (LAYAK)
  11. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A)
  12. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
  13. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB)
  14. Focus On The Family Indonesia (FOFI)
  15. Kita Sayang Remaja (KISARA)

Perubahan sosial dalam keluarga

Keluarga sebagai agen sosialisasi pertama dan terdekat seharusnya memberikan nilai-nilai sesuai harapan masyarakat kepada anak-anak. Menurut Peter Ludwig Berger, sosialisasi adalah proses seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Keluarga juga berperan sebagai benteng atau penyaring nilai-nilai di masyarakat kepada anak-anaknya, sebab tidak semua nilai-nilai dalam masyarakat itu baik. Peranan keluarga dalam perubahan sosial yang terjadi dan semakin dinamis dari masa ke masa. Dalam proses sosialisasi kepada anak, kegiatan dalam keluarga dan peranan tiap anggota keluarga, mulai bergeser jika dibandingkan dahulu. Dulu hubungan antara anak dan orang tua lebih terlihat jelas. Karena usia dan peranan yang sangat berbeda, anak harus lebih hormat kepada orang tua. Anak harus membantu pekerjaan rumah tangga orang tua. Dulu seorang anak usia 10-15 tahun sudah diberi tanggung jawab besar untuk membantu orang tua. Sekarang di usia itu, anak dituntut mandiri dengan cara lain. Misal mandiri dalam kegiatan sekolah dan menyelesaikan masalah pribadi. Peranan ibu dan ayah dalam keluarga sekarang tidak sama dengan dulu. Perubahan ini dilihat dari perubahan sosial, sekarang perubahan itu terjadi pada pola peran ibu-ayah. Dulu ibu bekerja di dapur, sekarang ibu juga bisa bekerja. Ibu lebih bebas bekerja di luar seperti ayah, dan ayah bergantian mengurus keperluan rumah tangga seperti ibu. Bagi beberapa keluarga hal ini memberikan interaksi lebih positif dan berdampak pada ketahanan keluarga yang lebih kuat. Perubahan juga terlihat pada pola keluarga dalam ikatan antarbudaya. Contoh keluarga ibu berasal dari suku A dengan ayah dari suku B. Ibu dan ayah dari awal memiliki nilai budaya berbeda, tetapi tetap berkomitmen membentuk keluarga. Mereka memiliki anak dan pernikahan mampu menyatukan dua keluarga besar dari budaya berbeda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar